Kamis, 24 November 2016

Video: Ziarah ke Taman Doa YMY Oebelo, 9 November 2016



RUMAHKALKUTA, Oebelo (9/11/) – Komunitas Umat Basis (KUB) St. Theresa dari Kalkulta Liliba, Kota Kupang, NTT, menutup bulan rosario dengan melakukan ziarah ke Taman Doa Yesus Maria Yosef (YMY) Oebelo. 

Ziarah ini diikuti hampir seluruh anggota KUB St. Theresa Kalkuta, orang tua dan anak-anak. Diawali dengan jalan salib yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengambil jalur jalan salib peristiwa terang dan peristiwa mulia, sementara kelompok yang kedua menempuh jalan salib peristiwa sedih dan peristiwa mulia.

Dipenghujung ziarah ditutup dengan perayaan ekaristi bersama yang dipimpin oleh pastor dari Taman Doa YMY Oebelo. Setelah rangkaian misa, imam dan umat KUB St. Theresa Kalkulta makan siang bersama di pasturan. ***(gbm)

Hari Guru dan Revolusi Mental "Jokowi"



Oleh : Giorgio Babo Moggi
 
Pada saat membawakan materi Pelatihan Penyusunan Bahan Ajar Berbasis Multimedia di Wangapu (15/11/2016), saya memulai dengan sebuah brainstorming – sesaat sebelum masuk ke pokok materi teknologi informasi.

Pada tempat yang pertama adalah saya mengapresiasi para guru yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mendidik dan mengajar anak bangsa. Di hadapan mereka, saya menegaskan bahwa menjadi guru tidak mudah. Guru adalah profesi yang mulia. Mereka tidak hanya mengajarkan tetapi juga mendidik.

Saya membagikan pengalaman pribadi di Australia. Suatu waktu, pada perayaan 17 Agustus 2013, di Rossiter Park, Townsville, saya menghampiri seorang anak yang duduk sendirian karena ditinggalkan orang tuanya yang sedang bercengkerama dengan warga Indonesia lainnya.

Saya menyapanya. Dijawabnya dingin. Cool. Ya, saya berpikir mungkin ini karakternya. Saya tetap duduk di sebelahnya. Ia langsung mengajukan pertanyaan.

“Mengapa dengan kaki anda?” 

Saya belum sempat menjawab, ia menyela,”Jika pertanyaanku menyinggung privasi anda, anda tidak harus menjawab.”

Saya kagum dengan cara berpikir anak ini. Saya tetap tenang dan bersedia menjawab pertanyaanya.

Pengalaman lain, suatu malam, di bus stop (halte bus) kampus, selain saya, ada beberapa mahasiswi Eropa hendak turun ke pusat kota (city center). Di lengan remaja putri ini, bergelantungan semacam selendang yang bertuliskan “Happy Birthday”. Rupanya, mereka hendak merayakan seventeen party di kota.

Remaja ini menghampiri saya dan meraih tongkat (kruk) yang ada dalam genggaman saya. Tentu didahului dengan sapaan.

“Mengapa anda memakai tongkat?” tanya gadis cantik ini.

Posisi saya waktu itu duduk, sehingga ia tidak melihat dengan jelas kondisi saya. Tambah lagi suasana di halte bus agak remang-remang. 

Jawaban saya sudah di ujung bibir, gadis ini langsung menyergap, “ Kamu tidak usah menjawab, kalau jawabannya sangat pribadi.”

Seperti pengalaman sebelumnya. Saya tertegun. Kemudian saya menjawabnya karena pertanyaannya tidak menyinggung hal privasi saya.

Dari dua pengalaman kecil ini, saya menyimpulkan pembentukan karakter anak merupakan hal yang sulit. Tidak gampang! Mentransferkan pengetahuan kepada anak merupakan hal mudah. Lagi pula, dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, internet khususnya, semua orang tanpa batas usia (bagi yang bisa mengakses internet) dapat memperoleh informasi (pengetahuan) tanpa batas ruang dan waktu. Tidak demikian halnya  dengan pendidikan dan pembentukan karakter anak.

Saya miliki pengalaman berulang kali di atas angkutan kota di seputaran Kota Kupang. Saya hampir tidak mendengar kata “permisi” dari mulut siswa atau siswi yang turun naik angkutan kota. Padahal anda tahu sendiri bagaimana sempitnya ruang angkutan kota. Tentu saja, kemungkinan senggol sini, senggol sana dapat saja terjadi. Berbeda, dengan penumpang dewasa, sesekali mengucapkan kata “permisi” atau “maaf” saat turun naik angkutan kota – meskipun satu dua orang saja. Kata permisi saja sulit diucapkan, apalagi “terimakasih”. Anehnya, siswa-siswi yang saya jumpai ini, katanya, dari sekolah pemerintah dan masuk kelompok sekolah unggulan di Kota Kupang. 

Menutup brainstroming, saya menegaskan entah para guru di Australia dapat  membentuk anak sehingga memiliki karakter yang kuat tidak terlepas kehidupan anak-anak dalam keluarga. Mereka tahu membedakan hal yang privasi dan bukan. Mereka mudah mengucapkan “thank you” dan “sorry”. Mereka setia dan sabar dalam antrian yang panjang. Hal-hal yang kita sulit jumpai di kalangan anak-anak kita.

Beratnya pendidikan dan pembentukan karakter anak, maka kita tidak dapat gantungkan peran itu kepada para pendidik (guru) di sekolah. Keluarga harus memiliki peran utama. Bukankah sekolah merupakan sel pendidikan? Bahkan, boleh dibilang rahim ibu merupakan ruang kelas yang pertama dan utama.  Pembentukan karakter anak dimulai dari sana.

Hari ini, bertetapan dengan Hari Guru Nasional, pertama, saya pantas memberikan apresiasi dan ucapkan selamat kepada para guru (baik yang masih hidup maupun yang telah wafat) atas jasa mereka membesarkan bangsa ini melalui dunia pendidikan ini. 


Kedua, marilah kita mengambil peran guru dalam status dan kedudukan kita masing-masing. Guru memang adalah profesi, tetapi peran guru dapat dalam kehidupan harian dapat dilakoni oleh siapapun pun – terutama dalam lingkungan keluarga kita masing-masing.

Terakhir, tantangan dunia pendidikan dewasa ini adalah pendidikan dan pembentukan karakter. Pengetahuan dapat ditransfer dan dicari karena sumber informasinya sangat tidak terbatas. Sedangkan pendidikan dan pembentukan karakter membutuhkan keteladanan kita semua. Tidak saja para guru, juga orang tua. Masyarakat pada umumnya. Contoh sederhananya, bagaimana kita mengajarkan anak membuang sampah pada tempatnya, sementara kita membuang abu rokok bukan pada asbak?

MAKA DARI ITU, REVOLUSI MENTAL ALA JOKOWI SANGAT ERAT KAITANNYA DENGAN PEMBENTUKAN KARAKTER ATAU KEPRIBADIAN. DI INDONESIA, ORANG PINTAR BANYAK, TETAPI ORANG BAIK MASIH SEDIKIT. DAN HEBATNYA, JOKOWI MENGAWALI GERAKAN REVOLUSI MENTAL INI DENGAN MENJADI SUMBER KETELADANAN. TIDAK KORUPSI!***(gbm)

Rabu, 23 November 2016

Menapaki Kisah Yesus Melalui Jalan Salib di Taman Doa Yesus Maria Yosef Oebelo


RUMAHKALKUTA, Oebelo (9/11/2014) – Santa Perawan Maria, Ibunda Yesus, mendapat tempat yang khusus dalam Gereja Katolik. Bunda Maria menjadi bunda Gereja. Secara otomotis, Bunda Maria adalah bunda keluarga katolik.

Sebagai Bunda Gereja, maka Santa Perawan Maria mendapat penghormatan khusus dari umat katolik dan Gereja Katolik sedunia. Maka dua kali setahun, tepatnya bulan Mei dan Oktober  didedikasikan secara khusus untuk Bunda Maria. Gereja Katolik menetapkan sebagai Bulan Maria.

Bulan Maria adalah wujud devosi yang nyata keluarga katolik. Dimana secara khusus berdoa Rosario selama sebulan. Biasanya dibuka dengan misa di gereja, selanjutnya doa rosario bergilir dari rumah ke rumah. Puncak dari doa rosario akan ditutup dengan misa di gereja.


Gereja Katolik sangat yakin melalui perantaraan Bunda Maria segala mujizat terjadi. Tidak mengherankan devosi melalui perantaraan Bunda Maria tiada henti oleh umat yang mengharapkan belas kasihnya. Kisah mujizat itu dapat kita jumpai dalam pengalaman nyata hidup kita masing-masing ketika kita memilih bersandar pada Bunda Maria melalui doa novena.

Komunitas Umat Basis (KUB) St. Theresa dari Kalkulta Liliba, Kota Kupang, NTT, tidak pun ketinggalan merayakan bulan penuh rahmat ini. Setelah melakoni rangkaian doa rosario selama sebulan, Oktober 2014, ditutupi dengan ziarah bersama ke Taman Doa Yesus Maria Yosef Oebelo, Kabupaten Kupang, pada tanggal 9 November 2014.


Ziarah ini diikuti hampir seluruh anggota KUB St. Theresa Kalkulta, orang tua dan anak-anak. Diawali dengan jalan salib yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengambil jalur jalan salib peristiwa terang dan peristiwa mulia, sementara kelompok yang kedua menempuh jalan salib peristiwa sedih dan peristiwa mulia. Dipenghujung ziarah ditutup dengan perayaan ekaristi bersama yang dipimpin oleh pastor dari Taman Doa YMY Oebelo. Setelah rangkaian misa, imam dan umat KUB St. Theresa Kalkulta makan siang bersama di pasturan. ***(gbm)

Santa Teresa dari Kalkuta


Santa Teresa dari Kalkuta adalah seorang yang penuh cinta kasih, seorang kudus di abab modern ini. Selama lebih dari 45 tahun, ia berkarya dari India,  melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Konggregasi Misionaris Cinta Kasih yang didirikannyanya terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada saat kematiannya, ia telah menjalankan 610 misi di 123 negara, termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, lepra dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah.

Kehidupan awal

Agnes Gonxha Bojaxhiu (Gonxha berarti "kuncup mawar" atau "bunga kecil" di Albania) lahir pada tanggal 26 Agustus 1910 di lahir di Skopje – Albania Kerajaan Ottoman, (Sekarang  menjadi negara Republik Macedonia). Meskipun lahir pada tanggal 26 Agustus, ia menganggap 27 Agustus, hari ia dibaptis menjadi "ulang tahun"nya. Dia adalah anak bungsu dari sebuah keluarga di Shkodër, Albania, lahir dari pasangan Nikollë dan Drana Bojaxhiu. Ayahnya meninggal pada tahun 1919 ketika ia baru berusia delapan tahun. Setelah kematian ayahnya, ibunya membesarkannya sebagai seorang Katolik Roma yang saleh.  

Sejak kecil Agnes sudah terpesona oleh cerita-cerita dari kehidupan misionaris dan pelayanan mereka di Benggala India. Pada usia 12 tahun, ia sudah merasa yakin akan pilihan hidupnya dan memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Pada usia delapan belas tahun, bulan September 1928, Agnes masuk Biara Suster-suster Loreto di Irlandia. Ia memilih nama Suster Maria Teresa sebagai kenangan akan Santa Theresia Lisieux. Namun karena salah satu biarawati disitu sudah memilih nama itu, maka Agnes memilih menggunakan ejaan Spanyol :  Teresa.

Bulan Desember 1928, Sr Teresa berangkat ke India dan tiba di Kalkuta pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah mengucapkan Kaul Pertamanya pada bulan Mei 1931, Sr Teresa ditugaskan untuk mengajar di sekolah putri St Maria, Calcutta. Pada tanggal 24 Mei 1937, Sr. Teresa mengucapkan Kaul Kekalnya, dan menjadi “pengantin Yesus” untuk “selama-lamanya”. Sejak saat itu ia dipanggil Ibu Teresa. Ia tetap mengajar di sekolah St Maria dan pada tahun 1944 diangkat sebagai kepala sekolah.

Meskipun Teresa menikmati mengajar di sekolah, ia semakin terganggu oleh kemiskinan di sekitarnya. Kelaparan di Benggala 1943 membawa penderitaan dan kematian ke kota serta kekerasan sektarian antara umat Hindu dan Muslim pada bulan Agustus 1946 membuat kota itu hidup dalam keputusasaan dan ketakutan.

Konggregasi Misionaris Cinta Kasih

Pada tanggal 10 September 1946, Teresa mengalami "panggilan" saat bepergian dengan kereta api ke biara Loreto di Darjeeling dari Kalkuta untuk retret tahunannya.

"Saya meninggalkan biara dan membantu orang miskin sewaktu tinggal bersama mereka. Ini adalah sebuah perintah. Kegagalan akan mematahkan iman."

Pada tanggal 10 September 1946, dalam perjalanan kereta api dari Calcutta ke Darjeeling untuk menjalani retret tahunannya, Ibu Teresa menerima “inspirasi”, “panggilan dalam panggilan”-nya. Pada hari itu, dengan suatu cara yang tidak pernah dapat dijelaskannya, dahaga Yesus akan cinta kasih dan akan jiwa-jiwa memenuhi hatinya. Ibu Teresa  lalu mengadopsi kewarganegaraan India dan menghabiskan beberapa bulan di Patna untuk menerima pelatihan dasar medis di Rumah Sakit Keluarga Kudus.

Pada tanggal 21 Desember untuk pertama kalinya Ibu Teresa keluar-masuk perkampungan kumuh India. Ia mengunjungi keluarga-keluarga, membasuh borok dan luka beberapa anak, merawat seorang bapak tua yang tergeletak sakit di pinggir jalan dan merawat seorang wanita sekarat yang hampir mati karena kelaparan dan TBC.  Setiap hari Ibu Teresa memulai hari barunya dengan persatuan dengan Yesus dalam Ekaristi, lalu kemudian pergi dengan rosario di tangan, untuk mencari dan melayani Yesus dalam “mereka yang terbuang, yang teracuhkan, yang tak dikasihi”.

Setelah beberapa bulan, ia ditemani oleh, seorang demi seorang, para pengikutnya yang pertama.   Pada awal tahun 1949, ia bergabung dalam usahanya dengan sekelompok perempuan muda dan meletakkan dasar untuk menciptakan sebuah komunitas religius baru untuk membantu orang-orang yang "termiskin di antara kaum miskin". Teresa menulis dalam buku hariannya bahwa tahun pertamanya penuh dengan kesulitan. Ia tidak memiliki penghasilan dan harus memohon makanan dan persediaan. Teresa mengalami keraguan, kesepian dan godaan untuk kembali dalam kenyamanan kehidupan biara. Ia menulis dalam buku hariannya:

“Tuhan ingin saya masuk dalam kemelaratan. Hari ini saya mendapat pelajaran yang baik. Kemelaratan para orang miskin pastilah sangat keras. Ketika saya mencari tempat tinggal, saya berjalan dan terus berjalan sampai lengan dan kaki saya sakit. Saya bayangkan bagaimana mereka sakit jiwa dan raga, mencari tempat tinggal, makanan dan kesehatan. Kemudian kenikmatan Loreto datang pada saya. ‘Kamu hanya perlu mengatakan dan semuanya akan menjadi milikmu lagi,’ kata sang penggoda... Sebuah pilihan bebas, Tuhanku, cintaku untukmu, aku ingin tetap bertahan dan melakukan segala keinginan-Mu merupakan kehormatan bagiku. Aku tidak akan membiarkan satu tetes air mata jatuh karenanya.”.

Teresa mendapatkan izin dari Vatikan pada tanggal 7 Oktober 1950 untuk memulai sebuah  kongregasi, yang kemudian menjadi Konggregasi Misionaris Cinta Kasih yang mempunyai misi untuk merawat orang – orang  "yang lapar, telanjang, tunawisma, orang cacat, orang buta, penderita kusta, semua orang yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan seluruh masyarakat, orang yang telah menjadi beban bagi masyarakat dan dihindari oleh semua orang."

Kongregasi ini dimulai dengan 13 orang anggota di Kalkuta, kini telah lebih dari 4.000 suster menjalankan panti asuhan, rumah bagi penderita AIDS dan pusat amal di seluruh dunia, dan merawat para pengungsi, pecandu alkohol, orang buta, cacat, tua, orang miskin dan tunawisma, korban banjir, dan wabah kelaparan.

Pada tahun 1952, Ibu Teresa  membuka Home for the Dying pertama diatas lahan yang disediakan oleh pemerintah kota Kalkuta. Dengan bantuan para pejabat India, ia mengubah sebuah kuil Hindu yang ditinggalkan menjadi Kalighat Home for the Dying, sebuah rumah sakit gratis untuk orang miskin. Mereka yang dibawa ke rumah tersebut menerima perhatian medis dan diberikan kesempatan untuk meninggal dalam kemuliaan, menurut ritual keyakinan mereka masing-masing; Muslim membaca Al-Quran, Hindu menerima air dari sungai Gangga, dan Katolik menerima Sakramen minyak suci.  "Sebuah kematian yang indah," katanya, "adalah untuk orang-orang yang hidupnya diperlakukan seperti binatang, mati seperti malaikat - dicintai dan diinginkan."

Ibu Teresa  segera menyediakan tempat tinggal untuk mereka yang menderita penyakit kusta, dan menyebut tempat ini sebagai Shanti Nagar (Kota Kedamaian). Para Misionaris Cinta Kasih juga mendirikan beberapa klinik kusta yang terjangkau di seluruh Kalkuta, menyediakan obat-obatan, perban dan makanan.  Ibu Teresa  merasa perlu untuk membuat rumah bagi anak-anak yang hilang. Pada tahun 1955, ia membuka Nirmala Shisu Bhavan, sebagai rumah perlindungan bagi para yatim piatu dan remaja tunawisma.

Pada tahun 1960-an, Konggregasi ini telah membuka penampungan, panti asuhan dan rumah lepra di seluruh India. Ibu Teresa  kemudian memperluas pelayanan konggregasinya di seluruh dunia. Rumah pertama di luar India dibuka di Venezuela pada tahun 1965 dengan lima suster. Selanjutnya di Roma, Tanzania, dan Austria pada tahun 1968, dan selama tahun 1970, konggregasi ini membuka rumah dan yayasan di puluhan negara baik di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Serikat. Pada tahun 2007, Anggota Konggregasi Misionaris Cinta Kasih telah berjumlah kurang lebih 450 bruder dan 5.000 biarawati di seluruh dunia, menjalankan 600 misi, sekolah dan tempat penampungan di 120 negara.

Melayani Dunia 

Pada tahun 1982 saat puncak Pengepungan Beirut, Ibu Teresa  menyelamatkan 37 anak yang terjebak di garis depan sebuah rumah sakit dengan menengahi sebuah gencatan senjata sementara antara tentara Israel dan gerilyawan Palestina. Ditemani oleh para pekerja Palang Merah, ia melakukan perjalanan melalui zona perang ke rumah sakit yang hancur untuk mengevakuasi para pasien muda.

Ketika Eropa Timur mengalami peningkatan keterbukaan di akhir 1980-an, ia memperluas pelayanannya untuk negara-negara komunis yang sebelumnya menolak Misionaris Cinta Kasih. Ia selalu tidak terpengaruh dengan kritik terhadap pendiriannya dalam melawan aborsi dan perceraian serta mengatakan, "Tidak peduli orang-orang mengatakan apa, Anda harus menerimanya dengan tersenyum dan melakukan pekerjaan anda sendiri." Ia mengunjungi Republik Sosialis Soviet Armenia setelah Gempa bumi Spitak 1988 dan bertemu dengan Nikolai Ryzhkov, Ketua Dewan Menteri.

Ibu Teresa  bepergian untuk membantu dan melayani penderita kelaparan di Ethiopia, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa di Armenia. Pada tahun 1991, Ibu Teresa  kembali untuk pertama kalinya ke tanah airnya dan membuka Konggregasi Bruder Misionaris Cinta Kasih di Tirana, Albania.

Pada tahun 1996, ia menjalankan 517 misi di lebih dari 100 negara. Selama bertahun-tahun kemudian, Ibu Teresa  mengembangkan Misionaris Cinta Kasih untuk melayani yang "termiskin dari yang miskin" di 450 pusat di seluruh dunia. Rumah Misionaris Cinta Kasih pertama yang ada di Amerika Serikat didirikan di South Bronx, New York. Pada tahun 1984, Konggregasi  ini telah menjalankan 19 pusat pelayanan di seluruh Amerika Serikat.

Akhir Pelayanan

Ibu Teresa  menderita serangan jantung ketika di Roma pada tahun 1983, saat mengunjungi Paus Yohanes Paulus II. Setelah serangan kedua pada tahun 1989, ia terpaksa harus memakai alat pacu jantung buatan. Pada tahun 1991, setelah berjuang melawan pneumonia saat ia berada di Meksiko, ia menderita masalah jantung lebih lanjut. Ibu Teresa  menawarkan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai kepala Misionaris Cinta Kasih, tetapi para biarawati konggregasi dalam sebuah pemungutan suara yang rahasia, memilihnya untuk tetap menjabat. Ibu Teresa  sepakat untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai kepala konggregasi.

Sepanjang tahun-tahun terakhir hidupnya, meskipun mengalami gangguan penyakit yang cukup parah, Ibu Teresa tetap mengendalikan kongregasinya serta menanggapi kebutuhan orang-orang miskin dan Gereja. Pada tahun 1997, para biarawatinya telah hampir mencapai 4000 orang, tergabung dalam 610 cabang dan tersebar di 123 negara dari berbagai belahan dunia. Pada bulan Maret 1997, Ibu Teresa memberikan restu kepada Sr. Nirmala MC, penerusnya sebagai Superior Jenderal Misionaris Cinta Kasih. Setelah bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II untuk terakhir kalinya, ia kembali ke Calcutta dan melewatkan minggu-minggu terakhir hidupnya dengan menerima kunjungan para tamu dan memberikan nasehat-nasehat terakhir kepada para biarawatinya.

Pada tanggal 5 September 1997 jam 9:30 malam, hidup Ibu Teresa di dunia ini berakhir. Jenazahnya dipindahkan dari Rumah Induk ke Gereja St. Thomas, gereja dekat Biara Loreto di mana ia menjejakkan kaki pertama kalinya di India hampir 69 tahun yang lalu. Ratusan ribu pelayat dari berbagai kalangan dan agama, dari India maupun luar negeri, berdatangan untuk menyampaikan penghormatan terakhir mereka.

Ibu Teresa mendapat kehormatan dimakamkan secara kenegaraan oleh Pemerintah India pada tanggal 13 September. Jenazahnya diarak dalam kereta yang sama yang dulu digunakan mengusung jenazah Mohandas K. Gandhi and Jawaharlal Nehru, melewati jalan-jalan di Calcutta sebelum akhirnya dimakamkan di Rumah Induk Misionaris Cinta kasih.

Ibu Teresa mewariskan teladan iman Kristiani yang kokoh, harapan yang tak kunjung padam, dan cinta kasih yang luar biasa.  Jawabannya atas panggilan Yesus, “Mari, jadilah cahaya bagi-Ku,” menjadikannya sebagai seorang Misionaris Cinta Kasih, seorang  “ibu bagi kaum miskin”,  dan sebagai simbol cinta kasih kristiani di dunia ini. ***

Sumber: Katakombe.Net